Cara Mencegah Gonore

Jika penyakit gonore tidak diobati, bakteri dapat menyebar ke aliran darah dan mengenai sendi, katup jantung atau otak. Konsekuensi yang paling umum dari gonore adalah Pelvic Inflammatory Disease (PID), yaitu infeksi serius pada organ reproduksi wanita yang dapat menyebabkan infertilitas. Selain itu, kerusakan yang terjadi dapat menghambat perjalanan sel telur yang sudah dibuahi ke rahim. Apabila ini terjadi, sebagai akibatnya sel telur ini berkembang biak di dalam saluran falopii atau yang disebut kehamilan di luar kandungan, suatu hal yang dapat mengancam nyawa sang ibu apabila tidak terdeteksi secara dini.

Seorang wanita yang terinfeksi dapat menularkan penyakitnya kepada bayinya ketika sang bayi melalui jalan lahir. Pada kebanyakan kasus dimana Ibu mengidap gonore, mata bayi ditetesi obat untuk mencegah infeksi gonococcus yang dapat menyebabkan kebutaan. Karena adanya resiko infeksi Ibu dan bayi, biasanya dokter menyarankan agar ibu hamil menjalani tes gonore setidaknya sekali selama kehamilannya. Sedangkan pada pria, apabila tidak ditangani secara serius gonore dapat menyebabkan impotensi.

Cara Mencegah Gonore

Karena gonore ini sangat menular namun seringkali tidak menampakkan gejala-gejala khusus, seseorang yang pernah melakukan hubungan seks dengan lebih dari satu pasangan sebaiknya memeriksakan dirinya dengan teratur. Penggunaan kondom dan difragma dapat mencegah penularan. Selain itu perlu terus waspada, karena sekali seseorang terinfeksi, tidak berarti selanjutnya ia menjadi kebal atau imun. Banyak orang terserang gonore ini lebih dari sekali.

Pencegahan jauh lebih baik dan lebih mudah dibandingkan dengan pengobatan. Perlu di tinjau kembali perilaku seksual sekarang, dan segera meninggalkan perilaku yang beresiko dan tidak bertanggung jawab. Jika sudah terlanjur terinfeksi, segeralah memeriksakan diri ke dokter.

Pengobatan Gonore

Pengobatan gonore biasanya akan diberi ampisilin 3,5 mg dimakan sekaligus lalu disuntik penisilin beberapa kali. Yang penting adalah pencegahannya. Tentu saja yang terbaik jangan berhubungan kelamin dengan penderita. Bila tetap mau berhubungan pakailah kondom dan beberapa jam sebelum berhubungan makanlah ampisilin 3,5 mg sekaligus.

Kebanyakan kasus gonore yang telah menyebar luas tetap disebabkan oleh strain yang peka terhadap penisilin, dan penisilin G, 10 juta satuan setiap hari selama 5-10 hari kelihatan merupakan terapi yang cocok. Pada salpingtis menahun, prostatitis, dan infeksi yang lama lainnya, pengobatan jangka lama dianjurkan.

Pada semua tipe gonore, pengobatan harus dilakukan dengan tindak lanjut yang berulang, termasuk pembiakan dari tempat yang terkena. Karena penyakit-penyakit yang ditularkan secara seksual lainnya dapat diperoleh pada saat yang sama, langkah-langkah diagnostic yang cocok juga harus dilakukan

Gejala Penyakit Gonore

Bila gonore menyerang wanita kadang-kadang penderita tidak sadar karena tidak ada gejala khas yg berupa kencing nanah.Gonore pada wanita dapat menjalar sampai ke rahim,tabung rahim,indung telur, dubur, dan kadang-kadang dapat pula bersarang di kerongkongan.Wanita hamil yang menderita gonore bila melahirkan bayinya bisa buta bila tidak cepat diobati sakit mata bayi itu.

Pada lelaki gonore yang tidak mendapat pengobatan sempurna dapat mengenai kelenjar prostat, dubur, dan persendian. Lelaki yang menjilat alat kelamin wanita penderita gonore dapat pula menderita gonore kerongkongan dan lidah.

Penyakit gonore disebabkan oleh bakteri neisseriae gonorrhoeae. Secara umum ciri-ciri neisseriae adalah bakteri gram negatif, diplokokus non motil, berdiameter mendekati 0,8 μm. Masing-masing cocci berbentuk ginjal; ketika organisme berpasangan sisi yang cekung akan berdekatan.

Gonorrhea telah menyebar ke seluruh dunia. Di Amerika Serikat, tingkat kejadiannya meningkat secara recap dari tahun 1955 hingga akhir 1970 dengan 400 hingga 500 kasus per 100 ribu populasi. Berikutnya berhubungan dengan epidemi AIDS dan perkembangan penerapan seks yang aman, insiden telah menurun mendekati 100 kasus tiap 100 ribu populasi. Di Indonesia, infeksi gonore menempati urutan yang tertinggi dari semua jenis PMS. Beberapa penelitian di Surabaya, Jakarta, dan Bandung terhadap WPS menunjukkan bahwa prevalensi gonore berkisar antara 7,4%-50%

Gonorrhea yang secara khusus ditularkan melalui hubungan seksual, kebanyakan merupakan infeksi yang tanpa gejala. Tingkat infeksi dari organisme, yang dilihat dari kemungkinan seseorang untuk mendapat infeksi dari. pasangan seksualnya yang telah terinfeksi, mencapai 20 – 30% pada pria dan lebih besar lagi pada wanita. Tingkat infeksi dapat dikurangi dengan menghindari berganti-ganti pasangan, pemberantasan gonorrhea dari individu yang terinfeksi (yang dapat dilakukan dengan diagnosa dini dan pengobatan), serta temuan kasus-kasus dan kontak-kontak melalui penyuluhan dan penyaringan populasi yang beresiko tinggi. Mekanisme profilaksis (kondom) dapat menjadi perlindungan yang parsial. Penggunaan metode chemoprophylaxis menjadi terbatas karena meningkatnya resistensi gonococcus terhadap antibiotik.

Gejala Gonore

Gejala gonorrhea pada pria lebih jelas daripada yang terdapat pada wanita. Wanita seringkali hanya mengalami gejala ringan atau tidak ada sama sekali. Pada pria gejala pertama biasanya timbul 2-7 hari setelah terjadinya kontak seksual dengan seseorang yang mengidap penyakit ini. Gejala yang dialami pria dimulai dengan rasa tidak nyaman pada saluran kencing, yang diikuti dengan rasa sakit ketika kencing atau keluarnya cairan dari penis. Gejala yang juga muncul adalah perasaan ingin buang air kecil terus menerus (anyang-anyangan), dan makin memburuk ketika penyakit ini menyebar ke bagian atas dari uretra. Ujung penis juga menjadi kemerahan dan membengkak. Pada wanita, gejala pertama kali timbul 7-21 hari setelah ia terinfeksi. Atau seringkali wanita yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala apapun sampai berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan setelah ia terinfeksi, dan baru ketahuan setelah pria pasangannya diketahui terinfeksi kemudian ia ikut diperiksa. Kalaupun terdapat gejala pada wanita biasanya ringan. Namun pada beberapa kasus, gejala yang biasanya timbul adalah sebagai berikut:

- Keluarnya cairan hijau kekuningan dari vagina

- Demam

-  Muntah-muntah

-  Rasa gatal dan sakit pada anus serta sakit ketika buang air besar, umumnya terjadi pada wanita dan homoseksual yang melakukan anal seks dengan pasangan yang terinfeksi

-  Rasa sakit pada sendi

-  Munculnya ruam pada telapak tangan

-  Sakit pada tenggorokan (pada orang yang melakukan anal seks dengan pasangan yang terinfeksi)

Penyakit Kelamin Gonore

Gonore (GO) didefinisikan sebagai infeksi bakteri yang disebabkan oleh kuman Neisseria gonorrhoeae, suatu diplokokus gram negatif. Infeksi umumnya terjadi pada aktivitas seksual secara genito-genital, namun dapat juga kontak seksual secara oro-genital dan ano-genital. Pada laki-laki umumnya menyebabkan uretritis akut, sementara pada perempuan menyebabkan servisitis yang mungkin saja asimtomatik.

Gonokokus termasuk golongan diplokokus berbentuk biji kopi dengan lebar 0,8 μ, panjang 1,6 μ dan bersifat tahan asam. 2 Kuman ini bersifat gram negatif, yang terlihat di luar atau di dalam sel polimorfonuklear (leukosit), tidak tahan lama di udara bebas, cepat mati pada keadaan kering, tidak tahan suhu di atas 39° C dan tidak tahan terhadap zat desinfektan. Afinitas kuman sangat baik pada mukosa yang dilapisi epitel silindris seperti pada vagina atau epitel lapis gepeng yang belum berkembang (imatur, pada wanita prepubertas) sedangkan epitel transisional dan berlapis pipih lebih resisten terhadap kuman gonokokus ini.

Secara morfologik gonokokus terdiri dari 4 tipe yaitu tipe I dan II yang mempunyai pili yang bersifat virulen, serta tipe III dan IV yang memiliki pili yang bersifat nonvirulen. Pili akan melekat pada mukosa epitel dan akan menimbulkan reaksi radang. Hanya tipe I dan II yang patogen pada manusia.

Gonokokus akan melakukan penetrasi permukaan mukosa dan akan berkembang biak di dalam jaringan sub epitelial. Gonokokus akan menghasilkan berbagai macam produk ekstraseluler yang dapat mengakibatkan kerusakan sel, termasuk di antaranya enzim seperti fosfolipase, peptidase dan lainnya. Kerusakan jaringan ini tampaknya disebabkan oleh dua komponen permukaan sel yaitu LOS ( Lipo Oligosaccharide , berperan menginvasi sel epitel dengan cara menginduksi produksi endotoksin yang menyebabkan kematian sel mukosa) dan peptidoglikan (mengandung beberapa asam amino dan “ penicilin binding component” yang merupakan sasaran antibiotika penisilin dalam proses kematian kuman).

Mobilisasi leukosit PMN menyebabkan terbentuk mikroabses sub epitelial yang pada akhirnya akan pecah dan melepaskan PMN dan gonokokus.

Hanya sedikit negara-negara di dunia yang melaporkan estimasi insidensi penyakit ini secara akurat. Kejadian gonore mengalami penurunan sejak tahun 1980-an, terutama pada negara berkembang(termasuk Amerika Serikat), dan hal ini dikaitkan dengan meningkatnya kampanye tentang risiko PMS.1,6 Angka kejadian gonore di Amerika Serikat terus menurun sebesar 73,8% selama periode tahun 1975–1999, dan angka kejadiannya tetap stabil sampai pada tahun 2005 dilaporkan terjadi 339.593 kasus, di mana angka ini menunjukkan terjadinya peningkatan.

Di Amerika, insidensi terbanyak terjadi pa da usia 15–24 tahun, hal ini diaitkan dengan bertambahnya jumlah pasangan seksual dan makin menurunnya kesadaran untuk menggunakan kontrasepsi barier.

Gejala klinis infeksi gonokokus ini terdiri dari :

a. Gejala klinis yang asimptomatik (terjadi infeksi pada uretra, endoserviks, rektum dan faring tanpa memberi gejala klinis)

b. Gejala yang simtomatik tanpa komplikasi

c. Gejala yang simtomatik dengan komplikasi

d. Disseminated Gonococcal Infection (DGI)

Untuk gejala klinis yang simtomatik tanpa komplikasi, terutama terjadi pada laki-laki. Yang paling sering terjadi adalah uretritis akut anterior dengan gejala keluarnya duh tubuh uretra yang mukoid atau mukopurulen, diikuti kemudian dengan disuria, frekuensi miksi yang meningkat dan keluarnya tetes darah diakhir miksi. Meatus uretra eksterna sering mengalami edema dan tampak eritematus. Sedangkan pada wanita sering kali gejala tidak tampak. Hal ini disebabkan karena pendeknya uretra wanita dan gonokokus lebih banyak menyerang servik dengan keluhan yang paling sering adalah adanya duh tubuh servik yang mukopurulen, disuria, intermenstrual uterine bleeding, dan menoragia

Komplikasi terjadi bila pengobatan tidak segera dilakukan atau pengobatan sebelumnya tidak adekuat. Infeksi dapat menjalar ke uretra bagian belakang secara ascendent. Pada pria dapat memberi gambaran klinis antara lain: tisonitis, parauretritis, litritis, cowperitis, prostatitis, vesikulitis, funikulitis dan epididimitis, sistitis.

Sedangkan pada wanita, komplikasi yang dapat terjadi antara lain: salpingitis, penyakit radang panggul (PRP), parauretritis dan bartolinitis.